Tren diet memang terus berganti, yang teranyar adalah diet yang
dipopulerkan oleh para selebriti Hollywood seperti Kelly Osbourne dan
Ketty Perry. Mereka mengaku melakukan diet yang mampu melangsingkan
seluruh bagian tubuh, kecuali bagian payudara.
Read more...
Senin, 02 Juni 2014
Diet Jamur-Langsing Tanpa Kecilkan Payudara
Rabu, 21 Mei 2014
13 Cara Cegah Kanker Payudara
Selasa, 06 Mei 2014
Tips Cara Menghilangkan Jerawat Secara Alami
Cara Menghilangkan Jerawat - Hey Kamu, Iya Kamu yang pasti lagi
sebel karena Jerawatan, iya aku memahami itu makanya pada kesempatan
kali ini aku Mencoba untuk membagikan kepada kamu mengenai Cara Menghilangkan Jerawat
yang bisa di lakukan dengan bahan-bahan alami yang sudah kami post di
artikel-artikel sebelumnya yang mana, udah aku bahas secara mendalam
mengenai Kelasifikasi dan juga ciri-cirinya, nanti aku berikan
link-linknya ya, Jadi tenang aja Teman-teman pembaca blog Khasiat Daun Alami ini.
Read more...
Minggu, 04 Mei 2014
Tips cepat hamil

1. Perhatikan berat badan
Idealnya, Anda memulai kehamilan pada berat badan ideal. Meski begitu melakukan penurunan berat badan secara radikal hanya untuk hamil bukanlah tindakan yang sehat.
"Yang terbaik adalah melakukan pengaturan pola makan dan olahraga sebelum konsepsi dan lanjutkan hal ini saat hamil dan setelah persalinan," kata Dr.Susan Clifford, asisten profesor obgyn di Duke University Medical Center.
Senin, 31 Maret 2014
Khasiat Dan Manfaat Daun Sirih Merah Untuk Kesehatan
Daun Sirih Merah atau Tumbuhan Sirih merah sering di jadikan tanaman hias oleh sebagian Masyarakat indonesia, Namun tak jarang yang memanfaatkanya sebagai tanaman obat, hal ini karena terbukti Daun sirih mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, Nah oleh karena itu Pada Artikel kali ini saya mencoba untuk membagikan artikel tentang Khasiat Daun Sirih Merah untuk teman-teman semuanya, yang semoga saja nantinya bisa di jadikan Referseni teman-teman ketika ingin mencari Obat secara Tradisional. Read more...
Senin, 20 Januari 2014
Tips menghilangkan komedo di wajah
Komedo merupakan hasil dari penyumbatan pori-pori wajah yang berisi kotoran yang mengendap di wajah. Kulit wajah memang sangat sensitif dengan interaksi dari luar apalagi untuk wajah berminyak yang akan dengan mudah membuat debu dan kotoran menempel dan masuk ke dalam pori wajah yang menyebabkan komedo dan jerawat.
Read more...
Jumat, 03 Januari 2014
Ingin Langsing? Kenali Bentuk Tubuh
Selasa, 03 Desember 2013
Menjadikan Bunga Matahari Sebagai Obat Alami
Kamis, 29 April 2010
Jangan Gigit Puting Ibu Dong Dek!

HAMPIR setiap ibu menyusui pasti pernah mengalami puting payudaranya digigit oleh si buah hati. Pengalaman tersebut terjadi saat si kecil baru tumbuh gigi. Lantas, bagaimana caranya mengatasi anak yang menggigit putingnya saat minum ASI?
Spesialis anak dari RSPAD Gatot Soebroto, dr Nuvi Nusarintowati SpA menjelaskan, memang pada usia enam bulan gigi susu bayi mulai tumbuh. Biasanya dua hingga empat buah masing-masing dua gigi seri di bagian atas dan dua di bagian bawah. Gigi yang mulai tumbuh ini memberi sensasi tersendiri yang kerap membuat bayi ingin menggigit sesuatu.
“Sebenarnya apapun benda yang dimasukan dalam mulutnya secara otomatis akan digigitnya. Mulai dari menggigit tangannya, mainan, makanan, tak terkecuali puting susu sang ibu saat memberikan ASI,” jelas dr Nuvi menjawab pertanyaan konsultasi pembaca yang diampu Mom&Kiddie.
Gigitan bayi pada puting susu ibu tentu menimbulkan rasa nyeri, bahkan luka yang dapat menganggu proses menyusui. Untuk mencegah agar bayi tidak mengigit lagi, ada beberapa hal yang perlu ibu perhatikan.
Posisi Mulut Bayi Saat Menyusu
Posisi menyusui yang kurang tepat ternyata dapat memengaruhi bayi untuk menggigit puting susu ibu. Untuk itu coba perhatikan, apakah perlekatan bibir bayi pada puting susu ibu sudah pada posisi yang benar. Nah, posisi yang baik dan benar adalah:
1. Mulut bayi harus betul-betul terbuka.
2. Pastikan seluruh puting susu beserta areola mamae (daerah di sekitar puting yang berbintil-bintil) masuk ke dalam mulut bayi. Bibir bayi bagian bawah harus lebih terjulur daripada bibir atasnya (kalau diperhatikan lebih saksama seperti bibir dower).
3. Mulut bayi menghisap dengan cara seolah-olah memerah payudara ibu. Jadi tidak disedot tapi diperah (pumping not sucking).
4. Berbeda dengan saat bayi menggunakan botol susu, kalau menggunakan botol susu disedot sementara kalau ASI seperti diperah.
Lepaskan Bila Sudah Kenyang
Lihat, apakah kebutuhan ASI si kecil memang sudah cukup. Jika kira-kira ia sudah kenyang, segera lepaskan puting susu ibu karena jika tidak, dapat dipastikan ia hanya akan memainkan puting ibu bahkan digigitnya. Jadi, segera copot dan gantikan dengan mainan khusus (teether) atau bisa diberikan biskuit untuk digigitnya. Mengingat usia anak sudah 6 bulan, berarti sudah boleh makan biskuit. Hal ini dilakukan agar tetap bisa merangsang pertumbuhan giginya tanpa melukai puting susu ibu.
Tip Hindari Gigitan si Kecil
1. Menyusuilah di saat bayi memang ingin menyusu atau saat ia mulai mengantuk.
2. Jangan menawari bayi menyusu saat ia sedang asyik bermain.
3. Coba untuk mengenali tanda-tanda bayi akan mengakhiri proses menyusui dan lepaskan payudara ibu sebelum bayi bermain dan mengigit puting.
4. Untuk membantu agar bayi lebih tenang saat menyusu, disarankan ibu menyusui dengan rileks di ruangan yang tenang dan tidak terlalu terang. Hal ini agar tidak terlalu banyak rangsangan yang diterima bayi dan ia dapat lebih santai dan tenang saat menyusu.
5. Setiap kali bayi melakukan gerakan mengigit puting, segera lepaskan payudara dari mulut bayi secara halus dengan memasukkan jari kelingking Anda ke mulut bayi sambil mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan itu karena ibunya kesakitan.
6. Jangan memberikan payudara jika bayi tidak ingin menyusu lagi.
(tty)
Read more...
Minggu, 21 Februari 2010
Menggugat Arah Sistem Jaminan Kesehatan
Menggugat Arah Sistem Jaminan Kesehatan
Ketika orang miskin tidak mampu membayar biaya pengobatan bila sakit, pemerintah pun ”berbaik hati” untuk membayarinya melalui sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat. Secara politis ini sangat bagus karena rakyat akan melihat bahwa pemerintah telah memerhatikan mereka.
Namun, berita tentang bayi yang disandera karena orangtuanya tidak mampu membayar, atau orang miskin yang ditolak rumah sakit (RS), menunjukkan bahwa dalam praktik masih ada masalah. Dari contoh- contoh kasus yang diberitakan media massa, masalahnya agaknya bukan pada tidak tersedianya dana, tetapi lebih pada birokrasi yang tidak dipahami atau tidak terjangkau oleh orang miskin.
Dalam program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II bidang kesehatan, masalah ini tidak dipersoalkan, tetapi justru jumlah dana yang disalurkan yang diperbesar dan cakupan yang diperluas, meliputi juga warga lembaga pemasyarakatan.
Masalah syarat administrasi ini memang pernah dibahas dalam rapat kerja Kementerian Kesehatan, tetapi lebih dilihat dari kepentingan RS. Masalah kemudahan bagi rakyat yang benar-benar memerlukan kurang dipersoalkan. Terobosan yang akan diambil Menteri Kesehatan, sesuai program 100 hari, adalah membagikan kartu miskin. Bagaimana mekanisme pembagiannya, berapa lama masa berlaku, dan bagaimana mekanisme perpanjangan kartu itu belum diungkapkan.
Di Amerika Serikat (AS), salah satu hal yang memberi tambahan nilai pada akreditasi RS adalah jika rumah sakit memiliki social service department. Tugas bagian ini adalah melakukan verifikasi ke alamat pasien untuk meyakini bahwa pasien benar-benar miskin ketika ada pasien miskin yang tidak memiliki kartu jaminan sosial.
Hal serupa barangkali juga dapat diterapkan di sini. Ketika pasien miskin datang tanpa kartu, pertolongan diberikan dulu. Kemudian, petugas rumah sakit (atau dinas sosial) melakukan pengecekan ke alamat pasien untuk memastikan apakah pasien benar-benar orang miskin.
Efisiensi
Problem lain dengan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) adalah segi efisiensinya. Dalam sistem layanan kesehatan Indonesia yang liberal dan rendah disiplin, masalah ini merupakan titik rawan. Pengharusan menggunakan Diagnostic Related Groups (DRG) dan International Classification of Diseases (ICD) sebagai pedoman belum merupakan jaminan karena banyak dokter belum memahami. Dengan DRG, biaya ditetapkan bukan didasarkan pada tiap tindakan (fee for service), tetapi pada jenis diagnosis, sedangkan penetapan diagnosis mengacu kepada ICD 10.
Selama sistem masih sangat liberal, tarif rumah sakit ditetapkan berbeda-beda sesuai peraturan daerah, serta belum ada mekanisme pengawasan yang efektif, kebutuhan dana Jamkesmas dapat membengkak tanpa peningkatan kualitas pelayanan. Apalagi jika penentuan besaran dana untuk tiap pasien tidak didasari perhitungan aktuaria yang cermat.
Di sisi lain, rumah sakit sulit menghindar dari pola perhitungan berdasarkan fee for service akibat perilaku dokter kurang kooperatif untuk melakukan efisiensi. Maka, perhitungan biaya akan lebih besar daripada ketentuan DRG sehingga mereka merasa rugi kalau menangani pasien miskin.
Dapat dimengerti bila masih saja terjadi ada pasien miskin diminta membayar dengan dalih tindakan itu tak termasuk yang dijamin. Rakyat miskin yang dijanjikan mendapat pengobatan gratis kembali yang menjadi korban. Konsekuensi selanjutnya adalah penurunan mutu layanan.
Tanpa pengawasan terhadap mutu, akan terjadi pembengkakan biaya yang melampaui batas yang ditetapkan DRG. Komplikasi atau efek samping yang terjadi akibat perawatan yang kurang bermutu jadi alasan untuk membengkaknya biaya.
Negara-negara maju yang mempunyai program seperti Jamkesmas, membentuk lembaga independen yang bertugas mengawasi mutu layanan. Di AS ada Institute for Health Care Improvement (IHI), di Inggris ada National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), demikian juga di Australia dan Eropa.
Mereka melakukan penilaian terhadap pelayanan kesehatan bagi yang ditanggung negara dalam segi keamanan, cost-effectiveness, dan manfaat bagi pasien. Lembaga-lembaga pengawas mutu tersebut berisi bukan saja birokrat, tetapi juga tokoh profesi atau universitas dan wakil masyarakat pemakai jasa pelayanan.
Pengelolaan
Dengan berbagai kelemahan di atas, dana Jamkesmas seharusnya dikelola sebagaimana asuransi kesehatan sosial. Senyampang dengan rencana pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), Jamkesmas seyogianya dilebur ke dalam SJSN dan dianggap sebagai pembayaran premi bagi orang miskin.
Jika pengelolaan SJSN benar-benar profesional, ia akan juga melakukan program preventif dan promotif serta menjamin pemerataan akses pelayanan bagi semua orang secara sama (equal) tanpa diskriminasi dan dengan mutu yang terjaga.
Pemerintah lalu tinggal membentuk lembaga pengawas yang mandiri seperti di negara-negara lain tadi. Selain itu, untuk efektivitas dan efisiensi dapat dilakukan penggabungan antara Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di daerah-daerah yang mampu sehingga tidak terjadi duplikasi dan pemborosan.
Di AS dan juga Australia, misalnya, beban itu dibagi antara pemerintah pusat dan negara bagian. Di AS, beban Jamkesmas orang miskin (medicare) ditanggung negara bagian, tetapi Jamkesmas untuk lanjut usia (medicaid) ditanggung pemerintah federal. Di Australia, beban operasional rumah sakit pemerintah (public hospital) 50 persen ditanggung pemerintah dan 50 persen lagi diperoleh dari SJSN.
Dalam program 100 hari KIB II, aspek populis dan ”dermawan” tampaknya yang lebih ingin ditonjolkan dibanding menyiapkan landasan untuk memperbaiki sistem pelaksanaannya secara konseptual sebagai dasar untuk melaksanakan UU SJSN (dijanjikan tahun 2014). Tanpa perbaikan sistem, beban Jamkesmas akan semakin besar tanpa dampak yang berarti bagi rakyat miskin.
Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum PB IDI
Read more...


.jpg)

